Selasa, 13 Maret 2012

Aku masih ingat percakapan kecil kita via BBm kala itu.
Saat itu sudah larut malam dan langit sedang meneteskan air matanya. Aku yang sedang menikmati semangkuk mie instant dan secangkir coklat hangat sambil memandang ke arah jendela apartement ku tiba-tiba mendengar suara BBm masuk. Aku mengambil BlackBerry lalu membaca pesan yang masuk itu.

"Selamat malam gadis kecil ku. Aku kangen banget sama bibir manyun kamu."
"Ah, aku tau ini pasti dari kamu" 
batin ku sambil tersenyum. Andra. Dia laki-laki yang sudah beberapa bulan ini tinggal di pikiran ku.

"Malam juga, pangeran penghuni pikiran ku. Aku juga kangen banget sama celotehan kamu. Urusan kamu udah beres?" balas ku cepat.
"Udah dong, Sayang. Aku udah di depan pintu apartement nih tapi kuncinya ketinggalan di kantor. Ini lagi nunggu diambilin kunci cadangannya."
"Ih dasar, kamu tuh pelupanya minta dicium-able banget deh."
"Ga masalah ketinggalan kunci apartement, asal ga ketinggalan kunci menuju hati kamu aja."

Gombalan Andra mungkin terdengar basi tapi tetap bisa bikin aku tersenyum. Itu salah satu alasan mengapa aku mau nerima Andra jadi pacarku. Mumpung lagi ga ada kerjaan mending ngegombalin balik Andra, pikirku.

"Buat apa kunci menuju hati ku kalo sebenarnya kamu udah ada di dalamnya?" balasku.
"Biar ga ada seorang pun yang bisa masuk ke hatimu selain aku."
"Hahaha. Kamu selalu bisa bikin aku bahagia yah. Andai aku juga bisa sesering itu bikin kamu bahagia."
"Kamu mau tau gimana cara bikin aku bahagia?" tanya Andra.
"Gimana?"
"Cuma dengan ngeliat kamu bahagia. Apalagi kalo bahagianya kamu itu karna aku. Itu aja."
"Kebahagiaan aku itu sebagian besar karna kamu. Bahkan senyum kecil kamu aja bisa bikin hari dan hati ku besorak. Apalagi ngeliat kamu tertawa. Mungkin bisa bikin nafasku berhenti sesaat."
"Kamu tau engga kenapa? Karna kalo aku tertawa nafasku bau jadi kamu berhenti bernafas sesaat deh. Hahaha."

Tuh kan. Andra dan segala candaannya itu memang selalu bisa menghibur.

"Ntar kalo punya anak aku maunya delapan. Tadinya sih kepengen sebelas cuma aku kurangi tiga. Biar tetap ada waktu kamu buat ngurus aku." 

Apaan deh Andra tiba-tiba ngomongin anak, pikirku. "Sesibuk-sibuknya aku tetap ada waktu special buat ngurus kamu."
"Iya dong. Makanya aku yakin ntar anak-anak kita bakalan masuk surga karna surga mereka terletak di bawah telapak kaki seorang wanita, istri,dan ibu yang luar biasa. Yaitu, kamu."
Errr, Ndra....

"Dan ditambah kamu yang mendidik mereka menjadi anak-anak yang luar biasa hebat dan berbaktinya. Mereka meniru lali-laki yang tepat!" balasku.
"Kalo kamu beneran jadi ibu dari anak-anak ku, aku pasti bisa jadi penyair yang hebat. Karna kamu sumber inspirasi ku yang tak terbatas."
"Jika Aku melahirkan anak-anak mu kelak jangan jadikan aku inspirasi berkepanjangan mu. Lihat anak-anak mu. Mereka lah sumber inspirasi terbesar mu."
"Sepertinya aku jadi bodoh karana terlalu terpesona oleh mu."
"Bukan. Kita berdua yang bodoh. Bodoh karna rindu ingin saling bertemu. Dan bodoh karna cinta yang semakin menumpuk."
"Ah, ntah siapa yang bodoh aku ga peduli. Bila mencintaimu adalah hal yang bodoh maka aku ga akan mau menjadi pintar."

"Duh, Ndra. berhenti bikin aku melayang deh. Yang nganter kunci cadangan kamu udah nyampe?"
"Udah daritadi. Aku mau mandi dulu yah, Sayang. Gerah banget seharian tadi luar kantor terus."
"Iya nih, aku juga mau tidur. Habis mandi kamu langsung tidur yah biar kita bisa bermimpi tentang hal yang sama."
"Bermimpi kita bakal bersama selamanya? Itu bukan mimpi, Sayang. Itu masa depan kita."
"Jangan hanya ucapan yang kamu lontarkan. Kenapa tidak kamu buktikan saja? Itu lebih bisa buat aku tenang."
"Disaat hati ku ini milik kamu maka perlu bukti apalagi?"
"Sayang, ucapan hanyalah segelintir kata yang tak bisa dipegang apalagi disimpan kebenarannya. Kamu bisa buktikan seiring langkah kita nanti."
"You got my heart from the start, Honey."
"Udah ah sana kamu mandi. Besok aku bangunin kamu kayak biasa yah. Bye, Honey. Sleep tight!"
"Bye, Honey. You too!"

Lalu ku lihat Display Picture mu. Ah, foto kita sewaktu SMA. Dulu kita hanya sahabat. Siapa yang menyangka akan menjadi seperti ini? 



Tidak ada komentar:

Posting Komentar